oleh SeNja Hidayat pada 24 Juni 2011 jam 16:10
lawang-lawang
Hari masih senja, sedang aku telah sibuk dengan segala urusanku yang dapat memuaskan semua jiwa ini. Setelah kuselesaikan cucianku yang sedari tadi kurendam saja, kini aku sibuk mencuci duhai parasku yang elok kutatapkan cermin. Sesekali aku mengulum senyum sambil menenteng gincu merah membara seolah gadis desa dibuai asmara. Di sisi kiri dan kanan pipiku, kubalut dengan bedak perindu, alisku yang melirit-kerik kutajamkan dengan tinta merona membiaskan candu asmara, lentik jemari yang kaku ku tata sesekali dengan kutek abal-abal dari pasar kembang, bulu mata yang lentik menjulang bak cemara yang doyong ke penjuru laut ku kibas-kibaskan dengan cat warna-warni sebagai bumbu perinduku. Aku pun harus memilih gaun yang serasi dengan mackup yang aduhai ini. Telah kupilih dan kupilih dari ke-sekian gaun dari pasar gencrot yang kupunyai, ya inilah! Kurasa yang paling cocok untukku saat ini. Warnanya merah membara, cocok sangat dengan wajahku yang berbinar meronakan gadis desa. Lalu kupantaskan dulu dengan berliak-liuk beradu pendapat dengan cermin lusuh milik mendiang nenekku. Seraya berkata ya, cocok! Segera ku percepat laju tingkahku dengan merapikan gaun-gaun yang tercecer dan ku masukkan beberapa kosmetik ke dalam tas kecilku, tak lupa sebuah korek api khas jiwaku, sebungkus rokok tak bercukai dan yang paling penting, pisau kecil berguna sekali menakuti pelanggan yang nakal.
Hampir setengah jam aku menunggu kereta kudaku datang. Gila, tak sadarkah ia! Mackupku telah nampak luntur, sesekali ku tebalkan lagi. Dan, hampir sepuluh batang putung rokok tercecer di tanah dekat sepatu jinjit yang meronakan jempol-jempol kakiku. Terhentak aku kaget seketika, ternyata aku lupa mencukur bulu-bulu halus yang hinggap di kaki. Untunglah telah kusadari sebelum pelangganku tunggang-langgang meninggalkan jiwaku kesepian. Segera aku cukur dengan pisau kecil yang sedianya selalu kubawa dan jangan pula heran pisau ini termatlah tajam, sangat tajam. Jadi jangan macam-macam dengan aku yang lembut juga garang. Akhirnya keretaku datang juga, setelah kepenatanku lama merajam. “Huft...! sudah lama aku tunggu kau datang sayang. Kemana saja? Janganlah lama ngetem-nya, kaki-kakiku kan pegal menunggumu” rintih geramku pada si Roy, sopir angkot langgananku. Ia adalah lelaki garang, perawakannya dempal dan perutnya berbidang-bidang. Sayang ia nampak dekil, lusuh, baunya itu sangat tengik bercampur kecut dan yang paling tidak aku sukai ia seorang lelaki tulen. Terbukti sudah berapa kali cintaku dihempasnya di peraduan pintu angkot.
“Hey, aku ini tadi habis dapat carteran dari tetangga kampung untuk mengantarkannya pergi ke acara perkawinan anaknya, itu si Parto. Pria yang kau taksir dulu, sekarang telah menikah dia dengan gadis asal Wonogiri. Untung aku masih ingat kebaikanmu dulu, yang menolongku waktu mlarat. kalau tidak, sudah tak narik lagi aku, capeknya aku ini.” Sahutnya dengan logat Batak, aseli marganya.
“benarkah? Ya sudahlah, toc aku sudah dapat menikmati tubuhnya sebelum ia dinikmati oleh isterinya.”
“iyalah! Kau pikir aku berdusta padamu. Buat apapula bapaknya tadi mencarter mobilku, kalau bukan kawinkan anaknya tersayang itu. Memangnya dengan cara apa kau bisa menidurinya? Kau bius kah dia dengan alkohol? Atau kau pergi ke dukun minta mantera-mantera pengasih? Ha... kau itu memang banci kurang ajar!”
“bukan Darwanto alias Wanti namanya, kalau tidak bisa luluhkan hati pria brekasaan seperti Parto itu. Lagi pula jangankan parto kau pun dapat kubuat tunggang – langgang mendambaku. Sayangnya aku kasihan dengan isteri dan anakmu.”
“apapula kau ini, bisa-bisa ku bogem kau hingga babak-belur. Hehehe.... sudah! Sudah sampai ini di tempat peraduanmu, Taman Lawang. Carilah pria yang kesepian dan ambillah uangnya sebanyak kau bisa lalu bayar hutangmu. Sudah sebulan lebih kau tak bayar angkotku ini. ”
“ala-ala mas Roy ini, punya utang cepek aja dinanti-nanti. Besok-besok saja kalau aku dapat uang togel. hehehe” elusku dengan rayu dipundaknya.
“isteriku itu tanyakan terus! Ya sudah, sekarang turunlah kau. Ini penumpangku menunggu kau lekas pergi.”
Kususuri jalan setapak menuju negeri para kaumku, taman lawang. Aku merasa sudah berpuluh-puluh pria kesepian yang menunggu kedatanganku. Sesekali kukibas-kibaskan rambut palsuku, ke kanan dan ke kiri. Menyapu debu di pundak tukang becak yang menanti pelanggan yang minta diantar. Ku tebarkan parfum khas tubuhku ke seluruh penjuru lelaki kesepian. Tetapi aku merasa ada yang lain, Seketika aku terhenti sejenak, ku palingkan wajahku ke salah satu sudut kiri di bawah pohon cermai. Kulihat itu salah satu sejawatku yang duduk termangu seolah menahan derita jiwa tiada tara. Hatiku merasa lalu-lalang menerka, ada apa dengannya? Lalu kuhampirinya yang sedang sendirian bak bidadari di kesunyian. “Ada apa hey kau manisku? Tak biasanya kau duduk termangu sendiri di sini? Tak biasanya rautmu seperti ini, ada apa hey cantikku?”
Tak terduga! Belum ia sempat menjawabnya, segera ia mendekapku dan tangisnya pun pecah bak balon yang terisi air mendidih, maka meleleh dan meluber membanjiri pundakku. Isak tangisnya tak terhenti pula, hingga seluruh bau semerbak harumku menjadi keringat pilu. Sesekali ku usap keningnya yang penuh keringat lara dan ku benahkan rambutnya yang menjuntai indah. Aku hanya dapat terdiam terpaku menunggu air matanya kering di telan dahaga pilu.
Setelah lebih dari tiga puluh menit ia membanjiri gaunku, Sutoyo alias Sinta mencoba tegakkan kepalanya seraya mengadu pilu ia merintih berkata “Wan, apakah aku se-hina ini? Apakah nasibku senista ini? Apakah tuhan menerima keputusan jiwaku ini?”
“apa yang membuat engkau berbicara seperti ini hay... cantikku, sinta?”
“ini gara-gara si perempuan jalang itu, tetanggaku di kampung. Sebulan yang lalu ia melihatku sedang mangkal di sini, Taman Lawang. Lalu, ia bicarakan ini dengan kedua orangtuaku yang sedari dulu belum mengetahui aku bekerja seperti ini. Aku tahu, karena kemarin aku pulang berniat menjenguk dan memberikan sedikit uang untuk ayah-ibuku. Tetapi tak kusangka, dibuangnya uang itu ke tanah lalu diinjak-injaknya seraya menunjuk tepat di muka dan memaki-maki “hay... anak jalang kau, dibesarkan dan dididik ternyata hanya untuk menjadi seperti ini kau rupanya, menjadi banci Taman Lawang. Sekarang engkau minggatlah, kau bukan lagi anak kami. Dan bawa uang haram itu.” Tak kurang itu, mereka mengusirku dengan hujaman ludah dan nestapa uang haram lusuh terinjak-injak. Apakah ini deritaku datang dari jiwaku yang bejat ini kawan? Aku sudah tak pantas meneruskan jiwa ini di ladang gersang fana ini kawan! Lebih baik aku mati saja dimakan setan yang menanti kedatanganku. Aku lebih baik mati saja kawan!”
Segera aku hanya dapat menutup rapat mulutnya yang bicara ngelantur tentang kematian. Sedang, aku tak bisa menjawab keluh-kesahnya, bebannya, pertanyannya yang bertubi. Karena bagiku pertanyaan itu tak dapat aku jawab biarpun seribu buku pun telah ku baca. Aku hanya dapat menelan ludah dan membasahi tenggorokanku yang kering mendengar rintihannya, serta kupeluk erat dia seraya membantu dan menjawab dari jiwanya yang dirajam ketidak-adilan. Aku pula ikut merintih dalam hati kenapa jiwaku tak dapat diterima oleh orang? Kenapa jiwa kami harus berakhir tragis dengan keluh kesah pilu disingkir dari lingkungan? Kami seolah baju yang dibuang karena kusam berganti warna, seolah binatang paling jalang dari sekumpulan binatang jalang.
Seketika aku tepis rintihanku itu, aku takut airmataku menjadi beban lagi bagi sinta “sudahlah cantik, tak usah pikirkan lagi, mari aku antar kau pulang atau kau tidur saja di rumah kosku. Lagi pula aku juga tak berniat lagi untuk mangkal, mari cantik. Hentikan tangsimu, banyak orang melihatmu.”
Ternyata tuhan bicara lain, handphoneku berulang kali berdering-dering. Ku lihat itu telepon dari kekasihku, pikirku mungkin minta jatah. Segera aku rijeck dan kumatikan telepon genggamku. Tak diduga, ternyata pria itu sudah menemukanku sebelum aku pergi menghilang. Ia di seberang jalan dan melambaikan tangan penuh api asmara nafsu. Setelah menunggu jalan menjadi sepi oleh lalu-lalang kendaraan, pria itu menghampiriku dengan memicingkan mata dengan guratan nafsu berkeliaran di paras tampannya.
“kenapa hey... kekasih kau tak menjawab teleponku dan lalu akan pergi meninggalkanku bersama temanmu itu? Apa kau sudah tak cinta lagi denganku? Aku telah menunggumu sedari tadi. Apakah engkau akan menghianatiku dengan temanmu ini kekasih?” tanyanya dengan menggebu cerca, seolah meradang berbias nafsu binal.
“tidak! Tidak seperti yang kau fikir sepicik itu sayang. Biarpun aku dijamah beribu lelaki engkau tetap dihatiku, tetap kekasihku satunya. Karena ini memang pekerjaanku cinta. Dan, ini temanku sedang membutuhkan aku, wahai kekasih. Ia sedang dilanda pilu yang merajam jiwanya. Kumohon mengertilah.”
“alah... engkau berdusta padaku! Aku tidak percaya denganmu” sembari menarik tanganku dengan brutal pria itu mendekap dengan aroma alkohol yang tajam menyengat hidung.
“sudahlah! Ikutlah dengannya Wan. Ia kekasihmu, ia yang lebih butuh kamu dari pada aku. Biarlah kesedihanku kuredam sendiri bersama penutup malam wahai temanku yang baik, Wanti.” Lirih pasrah Sinta menjelma suram hilang rona-nya yang cantik.
“tidak sinta, jangan bicara seperti itu. Aku akan menemanimu malam ini.”
“benar sayang! Lagi pula si-temanmu Sinta sedang tak ingin diganggu gitu kok. Biar ia ditemani malam dan engkau yang menemaniku, OK!” sahut kekasihku dan dengan tangannya ia menyeret aku ke dalam ruang penuh asmara dan nafsu dengan gelora yang membabi-buta Taman Lawang. Sekejap aku seperti terbius oleh rintihnya kekasihku dan membiarkan Sinta yang pergi dengan beban yang teramat dalam di jiwanya.
Kami menggeliat beradu cinta seolah riang ini tak pernah habis dikikis waktu. Ia mencumbu sedari umbun hingga tumitku, merayap-rayap bak cicak menerkam nyamuk yang hinggap, dikecupnya satu persatu dari penjuru tubuhku. Tapi fikiranku ternyata tidak lepas dari sosok Sinta yang menderita, fikiranku bergelayut kekhawatiran yang mendera terus-menerus sampai aku tak dapat merasa kasih yang diberikan oleh kekasih pujaanku. Sampai terakhir tetesan air pekat dari kekasih yang membanjiri sekujur tubuh ini pun tak terasa nikmat, se-nikmat biasanya. Setelah selesai aku bercinta dengannya atau sekitar satu setengah jam yang lalu, aku bergegas meninggalkannya tergeletak melepas nikmat, bergegas meninggalkan Taman-Lawang untuk segera melaju ke rumah Sinta. Dalam perjalanan aku berdesas-desus berdoa mengharap ia tidak rebah oleh lara jiwanya. Empat puluh lima menit setelah melalui perjalanan dengan dua kali naik angkot tibalah aku di depan rumah kontrakan Sinta. Langsung saja, aku ketok pintu berulang kali dan menyebut namanya. Tapi ia juga tak membuka pintu atau menjawabku. Lalu ku-ulangi entah keberapa kali, hingga aku berfikir untuk mencari jalan lain. Ku lihat jendela di samping rumahnya nampak masih terbuka, dengan tenaga seorang lelaki yang berniat maling aku meloncati jendela rapuh itu dengan lincah nan gesit. Tapi aku
tak menjumpai apapun selain gelap dan sunyi tak ada tanda kehidupan. Tapi aku masih punya handphone yang sedari tadi kumatikan. Lalu, kunyalakan dan sinarnya ku fungsikan sebagai pencari tombol lampu rumahnya guna terang benderang semua alam ini – rumah ini. Setelah lampu menyala, ternyata aku berada di ruang tamu yang berantakan. Terlihat banyak botol bir yang kosong, rokok yang berhamburan tercecer, handphone yang tergeletak di meja dan beberapa coretan di kertas yang basah akan luberan bir, tapi tak dapat kubaca karena terlalu basah sehingga aku putuskan untuk mencari Sinta di ruang lain, dengan memanggil-manggil namanya berulang-ulang kali. Sampailah aku terhenti pada ruang kamarnya dan betapa terkejutnya aku melihat kakinya yang mengambang di atas tanah. Seketika aku terhempas ketakutan, campur sedih dan kaget melihat ia dengan seutas tali tampar yang menjulang ke kusen rumah, lalu dikalungkannya tepat dileher dengan lidah yang menjulur keluar. Sedihku tak dapat dikisahkan oleh tangis karena melihat sinta dengan mukanya yang membiru seolah dirajam sakit lalu aku hanya dapat berteriak sekuat-kuatnya. Mencoba bangunkan tetangganya yang nyenyak tidur, mencoba menyibak paribaan yang menghujam temanku. Beberapa menit kemudian beberapa orang datang dan mendobrak pintu yang semula terkunci serta hanya meratapi mayat Sinta yang terbujur kaku melotot, menjulurkan lidah bergelantungan seolah Tarzan yang putus asa tinggal di hutan. Tak kulihat rona kesedihan dinampakkan oleh para tetangga Sinta. Sebaliknya, sembari mengiringi tangisku yang mulai pecah mereka satu sama lain saling berbisik mengolok-olok dan bersyukur atas kematian temanku itu “biar saja, biar lepas kampung ini dari dosa-dosa. Karena salah satu penyebab neraka telah sirna dengan mati bersimbol neraka pula!” salah satu orang menyeruak bisik yang sangat membuat kupingku resah mendengarnya.
Lima jam hanya berlalu saja, tanpa dzikir, tanpa isak tangis bahkan tanpa salah satupun keluarga sinta yang datang. Beberapa tetanggapun lalu-langgang pergi meninggalkan mayat Sinta tak terurus, dibiarkannya oleh kesibukan bekerja. Aku mencoba mencari-cari keluarga Sinta dari nomor ponselnya. Setelah ku dapat salah satu nomor yang menurutku itu nomor keluarganya, segera aku telepon dan memberi tahu kabar buruk ini, tak lupa memberikan alamat kontrakan Sinta yang jelas.
Tujuh jam telah berlalu dari semenjak aku menemukan Sinta yang ber-gelantungan dengan tali jemuran dan mayatnya masih terbujur kaku di ranjang tidurnya dengan busana yang ia kenakan tadi malam, gaun perempuan. Beberapa menit kemudian terdapat deru mobil yang datang dengan diiringi empat orang yang lalu lalang menahan sedih. Aku melihat ada tiga lelaki tampan nan menawan, lalu di sampingnya terdapat seorang perempuan parubaya yang menahan deru air mata. Pikirku itu ibunya, Benar saja, setelah tiba dan melihat sosok Sinta, perempuan yang berambut ikal penuh uban ini lalu memecah kesunyian dengan tangis yang menggema di penjuru ruang meratapi nasib putranya yang menjadi perempuan jadi-jadian dan kini menjadi mayat. Mayat mati karena penderitaan. Tidak menunggu waktu yang lama, tiga pemuda tadi lalu menggotong mayat Sinta seolah menggotong dua karung beras yang ditumpuk secara bersamaan.
Kemudian, semenjak hari itu aku tak tahu lagi bagaimana nasib mayat Sinta dan kepedihan jiwanya yang dibawa mati, aku tak pernah tahu lagi kesedihan yang dipancarkan oleh ibunya. Kini aku kembali dalam kehidupanku lagi. Menjadi seorang waria di Taman Lawang, menjajah cinta pada manusia yang hilang akal dan sesekali mengaduh kasih dengan teman kencanku, kekasihku yang membuat Sinta bunuh diri. Terkadang ada rasa penyesalan di hati, kenapa waktu itu aku tak berontak saja untuk menahan ajakan kekasihku bercinta dan pergi menemani sinta agar ia tak mengakhiri hidupnya setragis itu. Tapi penyesalanku hanyalah sia-sia saja.
Terkadang aku meratapi nasib Sinta, ku terka-terka dan ku biaskan pada nasibku. Masih ku ingat rintihnya sebelum kematian menjemputnya. “Apakah ini deritaku datang dari jiwaku yang bejat ini kawan? Aku sudah tak pantas meneruskan jiwa ini di ladang gersang fana ini kawan! Lebih baik aku mati saja dimakan setan yang menanti kedatanganku. Aku lebih baik mati saja kawan!” masih saja terasa menggaung-gaung kalimat itu di ujung ubun-ubun. Lalu, bagaimana dengan aku kelak atau aku besok, sedang beberapa penyakit telah lama menggerogoti tubuh ini. Mulai dari sipilis, radang paru juga pernah dulu aku menderita TBC dan infeksi tenggorokan. Mungkin ke-semua penyakitku itu sebab dari kecerobohanku. Ceroboh memilih jiwa yang membuat aku terajam sendiri. Apakah nanti setelah kematianku tuhan akan menerimanku, ada orang yang bersedia menguburku sedang keluargaku tak pernah tahu keberadaanku. Aku seperti berada di dunia anta-belantara yang siap dimangsa alam semesta. Keluarga yang telah mengusirku seperti si-sinta yang diludahi keluarganya, sebentar lagi pun pasti kekasihku meninggalkan aku karena aku yang tua bangka peyot dirajam penyakit. Kalau begini, aku jadi teringat puisinya bang Chairil Anwar.
“Kawan, jika usia kelak
Meloncer kita sampai habis-habisan,
Jika tubuh seluruh, pehong lagi bengkok
Hanya encok tinggal menentu kemudi,
Menyerah: sampai sini sajalah....!”
S
ampai saat ini aku pun masih mencari jiwa yang dapat membawaku pada perdamaian jiwa, keabadian serta sebait doa yang menjulur meminta pada yang kuasa. Agar aku kekal bukan karena kesenangan melainkan atas cinta kasih tuhan terhadap hambanya.
Sabtu, 25 Juni 2011
Minggu, 08 Mei 2011
Warga Sukolilo Beramai-Ramai Memanfaatkan Hasil Alam Di Tepi Pantai Utara
Melakukan Kesibukan Di Waktu Senggang
Warga Sukolilo Beramai-Ramai Memanfaatkan Hasil Alam Di Tepi Pantai Utara
TUBAN - Kesibukan sehari-hari warga desa sukolilo kec. Tuban kab.Tuban disepanjang garis pantai utara dalam menikmati kehidupan. Dengan berbagai latar belakang mereka beramai-ramai dalam satu suasana matahari terbenam yang mengundang malam, untuk mencari tambahan nafkah keluarga dengan mencari rumput laut di sepanjang garis pantai serta mencari kerang yang menempel pada terumbu karang.
Sore itu tidak hanya orang-orang dewasa tetapi pula ikut di jejali anak-anak yang membantu orang tua mencari kerang ataupun rumput laut, sekaligus sebagai tempat permainan yang paling nyaman bagi mereka selain rumahnya yang saling menghimpit-sempit. Setiap hari para warga mulai berdatangan tepat setelah adzhan Ashar seakan sudah terkomando, secara spontanitas mereka berdatangan untuk mencari nafkah tambahan. salah satunya Mbak Lin(38 th) warga setempat, tepatnya GG V. ibu tiga anak ini sebenarnya berprofesi sebagai pembuat kecamba, akan tetapi merelakakn waktu senggangny berjubal bersama warga lain untuk mencari tirem (sejenis kerang.) Mbak Lin memang baru tiga hari ini ikut serta mencari tirem bersama warga yang sudah bertahu-tahun melakukan itu. Tuturnya “saya berminat ketika melihat warga mencari tirem, makanya saya ikut. Biarpun sedikit menggangu aktifitas istirahat saya”. Bersama dua putranya mbak lin dua hari terakhir dapat memperoleh dua ember tirem yang diperolehnya hingga petang untuk sumber lauk pauk keluarga.
Lain halnya dengan pak. Gono (65th) warga sukolili gag III tersebut mencari rumput laut di sepanjang garis pantai guna di jual ke pasar setelah keringnya. Dalam sehari pak gono menghabiskan waktunya lima jam untuk mencari rumput laut, namun tidak banyak yang ia dapatkan dari hasil itu. “paling mentok saya Cuma dapat uang 15 ribu/hari itupun setelah dikeringkan” tuturnya. Selain itu ia juga harus menghidupi satu putra yang berjenjang setingkat menengah atas di Tuban, juga seorang istri yang terbaring di ranjang kerena sakit menahun, stroke. Lelaki sepuh ini pun harus mencari tambahan selain sebagai pencari rumput laut, sesekali ia juga dipanggil warga sebagai tukang pijit, itupun jika ada yang memanggilanya. Sebenarnya profesi pak. Gono adalah nelayan akan tetapi ia sudah terlalu tua untuk melakoni pekerjaan yang keras tersebut. Dari hasil itu memang dirasa jauh dari cukup, menutupi kebutuhan keluarga, akan tetapi ia tetap mensyukuri keadaanya itu.
Warga Sukolilo Beramai-Ramai Memanfaatkan Hasil Alam Di Tepi Pantai Utara
TUBAN - Kesibukan sehari-hari warga desa sukolilo kec. Tuban kab.Tuban disepanjang garis pantai utara dalam menikmati kehidupan. Dengan berbagai latar belakang mereka beramai-ramai dalam satu suasana matahari terbenam yang mengundang malam, untuk mencari tambahan nafkah keluarga dengan mencari rumput laut di sepanjang garis pantai serta mencari kerang yang menempel pada terumbu karang.
Sore itu tidak hanya orang-orang dewasa tetapi pula ikut di jejali anak-anak yang membantu orang tua mencari kerang ataupun rumput laut, sekaligus sebagai tempat permainan yang paling nyaman bagi mereka selain rumahnya yang saling menghimpit-sempit. Setiap hari para warga mulai berdatangan tepat setelah adzhan Ashar seakan sudah terkomando, secara spontanitas mereka berdatangan untuk mencari nafkah tambahan. salah satunya Mbak Lin(38 th) warga setempat, tepatnya GG V. ibu tiga anak ini sebenarnya berprofesi sebagai pembuat kecamba, akan tetapi merelakakn waktu senggangny berjubal bersama warga lain untuk mencari tirem (sejenis kerang.) Mbak Lin memang baru tiga hari ini ikut serta mencari tirem bersama warga yang sudah bertahu-tahun melakukan itu. Tuturnya “saya berminat ketika melihat warga mencari tirem, makanya saya ikut. Biarpun sedikit menggangu aktifitas istirahat saya”. Bersama dua putranya mbak lin dua hari terakhir dapat memperoleh dua ember tirem yang diperolehnya hingga petang untuk sumber lauk pauk keluarga.
Lain halnya dengan pak. Gono (65th) warga sukolili gag III tersebut mencari rumput laut di sepanjang garis pantai guna di jual ke pasar setelah keringnya. Dalam sehari pak gono menghabiskan waktunya lima jam untuk mencari rumput laut, namun tidak banyak yang ia dapatkan dari hasil itu. “paling mentok saya Cuma dapat uang 15 ribu/hari itupun setelah dikeringkan” tuturnya. Selain itu ia juga harus menghidupi satu putra yang berjenjang setingkat menengah atas di Tuban, juga seorang istri yang terbaring di ranjang kerena sakit menahun, stroke. Lelaki sepuh ini pun harus mencari tambahan selain sebagai pencari rumput laut, sesekali ia juga dipanggil warga sebagai tukang pijit, itupun jika ada yang memanggilanya. Sebenarnya profesi pak. Gono adalah nelayan akan tetapi ia sudah terlalu tua untuk melakoni pekerjaan yang keras tersebut. Dari hasil itu memang dirasa jauh dari cukup, menutupi kebutuhan keluarga, akan tetapi ia tetap mensyukuri keadaanya itu.
Jumat, 15 April 2011
Partai-Partai Gurem Bentuk Partai Persatuan
Jakarta - Sepuluh partai politik yang gagal masuk parlemen berencana membentuk satu partai bersama yang disebut Partai Persatuan Nasional. Salah satu partai gurem yang ikut adalah Partai Matahari Bangsa.
Imam Addaruqutni, Ketua Umum PMB, menyatakan, pembicaraan mengenai Partai Persatuan Nasional sudah disepakati di tataran elite sepuluh partai. "Sekarang kami sedang melakukan sosialisasi ke daerah-daerah," kata Imam ketika dilansir VIVAnews.com, Jumat 15 April 2011.
Selain PMB, sembilan partai lain yang ikut dalam proses ini adalah Partai Demokrasi Pembaruan, Partai Nasional Benteng Kemerdekaan, Partai Persatuan Daerah, Partai Penegak Demokrasi Indonesia, Partai Kasih Demokrasi Indonesia, Partai Pelopor, Partai Patriot, Partai Indonesia Sejahtera, dan Partai Pemuda Indonesia.dari ke-sepuluh partai tersebut dapat dipahami bahwa keberadaanya bukan hanya sebagai hama di atas elite politik. Melainkan suatu upaya pembentukan politik yang multi-dimensi, tandasnya.
Setelah sosialisasi dilakukan, Mei 2011 diharapkan infrastruktur di daerah sudah tertata. Kemudian sepuluh partai ini berharap bisa menggelar pertemuan pada Juni 2011 ini. Target itu untuk bisa mengikuti proses verifikasi partai politik di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia yang akan ditutup pendaftarannya pada Juli nanti.
"Kami optimistis bisa lolos verifikasi, karena pada dasarnya meski nanti partainya baru, infrastruktur sudah ada di daerah-daerah," kata Imam.(bs)
Jakarta - Sepuluh partai politik yang gagal masuk parlemen berencana membentuk satu partai bersama yang disebut Partai Persatuan Nasional. Salah satu partai gurem yang ikut adalah Partai Matahari Bangsa.
Imam Addaruqutni, Ketua Umum PMB, menyatakan, pembicaraan mengenai Partai Persatuan Nasional sudah disepakati di tataran elite sepuluh partai. "Sekarang kami sedang melakukan sosialisasi ke daerah-daerah," kata Imam ketika dilansir VIVAnews.com, Jumat 15 April 2011.
Selain PMB, sembilan partai lain yang ikut dalam proses ini adalah Partai Demokrasi Pembaruan, Partai Nasional Benteng Kemerdekaan, Partai Persatuan Daerah, Partai Penegak Demokrasi Indonesia, Partai Kasih Demokrasi Indonesia, Partai Pelopor, Partai Patriot, Partai Indonesia Sejahtera, dan Partai Pemuda Indonesia.dari ke-sepuluh partai tersebut dapat dipahami bahwa keberadaanya bukan hanya sebagai hama di atas elite politik. Melainkan suatu upaya pembentukan politik yang multi-dimensi, tandasnya.
Setelah sosialisasi dilakukan, Mei 2011 diharapkan infrastruktur di daerah sudah tertata. Kemudian sepuluh partai ini berharap bisa menggelar pertemuan pada Juni 2011 ini. Target itu untuk bisa mengikuti proses verifikasi partai politik di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia yang akan ditutup pendaftarannya pada Juli nanti.
"Kami optimistis bisa lolos verifikasi, karena pada dasarnya meski nanti partainya baru, infrastruktur sudah ada di daerah-daerah," kata Imam.(bs)
features and news
Operasi Yang Ditunggu-Tunggu selama Sembilan bulan lebih, Terlaksana Juga
Rochman-Rochim Dijadwalkan Operasi Selama 27 Jam
Semua pihak menunggu saat-saat operasi dengan was-was, terutama orang tua Rochman-Rochim, bayi kembar siam asal jombang, yang dijadwalkan pada sabtu, (9/4) pukul 05.00 wib. hingga minggu, (10/4) pagi hari.
Surabaya - Pagi itu suasana tegang, galau dan cemas-cemas harap dirasakan Kedua orang tua Rochman-Rochim. Mereka semalaman tak tidur setelah mendengar keputusan tim operasi Rochman-Rochim hari ini dilaksanakan. Bahkan terlihat mereka tak pernah sejengkalpun beranjak dari depan pintu kamar perawatan Rochman-Rochim. Bukan kedua orang tuanya saja berharap cemas, melainkan tim dokter, keluarga, sampai-sampai seisi rumah sakit Dr Soetomo merasakan hal yang sama. Tidak heran operasi yang dijadwalkan selama dua hari tersebut baru ketiga kalinya di lakukan, di seluruh dunia setelah Inggris dan Abudhabi, merupakan pekerjaan yang berat bagi tim bedah untuk melaksanakannya hingga dikerahkannya sebanyak 50 dokter dan 50 perawat sebagai tim operasi Rochman-Rochim.
Operasi bayi kembar siam yang lahir di jombang, 04 september 2008 lalu itu melalui banyak kendala sebelum upaya operasi direncanakan. Sebelumnya berbagai spekulasi yang ada, mulai dari dugaan jumlah kelamin Rochman-Rochim hanya satu dan penyatuan syaraf-syaraf tubuh. Juru bicara Pusat Pelayanan Kembar Siam Terpadu (PPKST) RSUD dr Soetomo, dr Agus Harianto SpA(K), mengakui tim dokter berupaya terhadap rekonstruksi alat kelamin dan anus serta pemberian alat kelamin bantu kepada bayi yang kurang dominan. Hal tersebut dilakukan karena diduga Rochman mengalami perkembangan kurang sempurna atau menempel di tubuh Rochim. Agus menambahkan, hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan pembuluh darah arteri pada alat kelamin ternyata hanya satu. Masalahnya, pembuluh darah tersebut berada tepat di tengah bagian tubuh yang menempel. Jika kedua bayi dipisahkan dan pembuluh darah arterinya dipotong, alat kelamin yang hanya satu tidak bisa berfungsi. “Kami bingung juga karena ini menyangkut masa depan kedua bayi,” kata Agus.
Sebelumnya, tim dokter bingung memutuskan akan diberikan pada siapa satu-satunya alat kelamin yang ada. Seperti diberitakan sebelumnya, Rochman-Rochim terlahir dengan satu alat kelamin dan satu anus. Untuk masalah anus, tim dokter tidak menemukan kendala. Setelah dipisahkan nanti, kedua bayi bisa dibuatkan kolostomi di bagian perut sebagai saluran pembuangan kotoran.
Kendala sekarang ada pada alat kelamin. Hasil pemeriksaan sebelumnya menunjukkan masing-masing bayi memiliki kandung kemih sendiri. Artinya, kedua bayi masih bisa dipisahkan. Dengan catatan satu-satunya alat kelamin diberikan ke salah satu bayi. Sementara bayi yang satu lagi bisa dibuatkan alat kelamin buatan.
Hanya saja, pembuluh darah arteri yang cuma satu membuat tim dokter dilematis. Jika pembuluh darah arteri dipotong saat operasi pemisahan dilakukan, alat kelamin yang ada tidak akan berfungsi. Masalah ini bisa diatasi melalui alat kelamin buatan yang nantinya tetap bisa memberi kepuasan kepada pasangan masing-masing. Namun keduanya tidak akan merasakan orgasme ketika berhubungan suami-istri. Agus mengatakan, kedua bayi sebenarnya masih bisa hidup meski tidak dipisahkan. Tapi kedua orangtua tetap minta Rochman-Rochim dipisahkan. “Karena itu kami harus memikirkan matang-matang semuanya, termasuk dari segi hukum untuk menghindari kemungkinan munculnya gugatan hukum di kemudian hari,” kata Agus. kedua bayi sebenarnya masih bisa hidup meski tidak dipisahkan. Tapi kedua orangtua tetap minta Rochman-Rochim dipisahkan. “Karena itu kami harus memikirkan matang-matang semuanya, termasuk dari segi hukum untuk menghindari kemungkinan munculnya gugatan hukum di kemudian hari,” kata Agus.
Rochman-Rochim merupakan kembar siam dempet pinggul ketiga yang ditangani RSUD dr Soetomo. Namun masalah yang dihadapi tim dokter pada dua kasus sebelumnya tidak sepelik sekarang. “Dua kembar siam dempet pinggul sebelumnya perempuan dan tidak ada masalah dalam pembuatan vagina,” kata Agus.(sh)
Rochman-Rochim Dijadwalkan Operasi Selama 27 Jam
Semua pihak menunggu saat-saat operasi dengan was-was, terutama orang tua Rochman-Rochim, bayi kembar siam asal jombang, yang dijadwalkan pada sabtu, (9/4) pukul 05.00 wib. hingga minggu, (10/4) pagi hari.
Surabaya - Pagi itu suasana tegang, galau dan cemas-cemas harap dirasakan Kedua orang tua Rochman-Rochim. Mereka semalaman tak tidur setelah mendengar keputusan tim operasi Rochman-Rochim hari ini dilaksanakan. Bahkan terlihat mereka tak pernah sejengkalpun beranjak dari depan pintu kamar perawatan Rochman-Rochim. Bukan kedua orang tuanya saja berharap cemas, melainkan tim dokter, keluarga, sampai-sampai seisi rumah sakit Dr Soetomo merasakan hal yang sama. Tidak heran operasi yang dijadwalkan selama dua hari tersebut baru ketiga kalinya di lakukan, di seluruh dunia setelah Inggris dan Abudhabi, merupakan pekerjaan yang berat bagi tim bedah untuk melaksanakannya hingga dikerahkannya sebanyak 50 dokter dan 50 perawat sebagai tim operasi Rochman-Rochim.
Operasi bayi kembar siam yang lahir di jombang, 04 september 2008 lalu itu melalui banyak kendala sebelum upaya operasi direncanakan. Sebelumnya berbagai spekulasi yang ada, mulai dari dugaan jumlah kelamin Rochman-Rochim hanya satu dan penyatuan syaraf-syaraf tubuh. Juru bicara Pusat Pelayanan Kembar Siam Terpadu (PPKST) RSUD dr Soetomo, dr Agus Harianto SpA(K), mengakui tim dokter berupaya terhadap rekonstruksi alat kelamin dan anus serta pemberian alat kelamin bantu kepada bayi yang kurang dominan. Hal tersebut dilakukan karena diduga Rochman mengalami perkembangan kurang sempurna atau menempel di tubuh Rochim. Agus menambahkan, hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan pembuluh darah arteri pada alat kelamin ternyata hanya satu. Masalahnya, pembuluh darah tersebut berada tepat di tengah bagian tubuh yang menempel. Jika kedua bayi dipisahkan dan pembuluh darah arterinya dipotong, alat kelamin yang hanya satu tidak bisa berfungsi. “Kami bingung juga karena ini menyangkut masa depan kedua bayi,” kata Agus.
Sebelumnya, tim dokter bingung memutuskan akan diberikan pada siapa satu-satunya alat kelamin yang ada. Seperti diberitakan sebelumnya, Rochman-Rochim terlahir dengan satu alat kelamin dan satu anus. Untuk masalah anus, tim dokter tidak menemukan kendala. Setelah dipisahkan nanti, kedua bayi bisa dibuatkan kolostomi di bagian perut sebagai saluran pembuangan kotoran.
Kendala sekarang ada pada alat kelamin. Hasil pemeriksaan sebelumnya menunjukkan masing-masing bayi memiliki kandung kemih sendiri. Artinya, kedua bayi masih bisa dipisahkan. Dengan catatan satu-satunya alat kelamin diberikan ke salah satu bayi. Sementara bayi yang satu lagi bisa dibuatkan alat kelamin buatan.
Hanya saja, pembuluh darah arteri yang cuma satu membuat tim dokter dilematis. Jika pembuluh darah arteri dipotong saat operasi pemisahan dilakukan, alat kelamin yang ada tidak akan berfungsi. Masalah ini bisa diatasi melalui alat kelamin buatan yang nantinya tetap bisa memberi kepuasan kepada pasangan masing-masing. Namun keduanya tidak akan merasakan orgasme ketika berhubungan suami-istri. Agus mengatakan, kedua bayi sebenarnya masih bisa hidup meski tidak dipisahkan. Tapi kedua orangtua tetap minta Rochman-Rochim dipisahkan. “Karena itu kami harus memikirkan matang-matang semuanya, termasuk dari segi hukum untuk menghindari kemungkinan munculnya gugatan hukum di kemudian hari,” kata Agus. kedua bayi sebenarnya masih bisa hidup meski tidak dipisahkan. Tapi kedua orangtua tetap minta Rochman-Rochim dipisahkan. “Karena itu kami harus memikirkan matang-matang semuanya, termasuk dari segi hukum untuk menghindari kemungkinan munculnya gugatan hukum di kemudian hari,” kata Agus.
Rochman-Rochim merupakan kembar siam dempet pinggul ketiga yang ditangani RSUD dr Soetomo. Namun masalah yang dihadapi tim dokter pada dua kasus sebelumnya tidak sepelik sekarang. “Dua kembar siam dempet pinggul sebelumnya perempuan dan tidak ada masalah dalam pembuatan vagina,” kata Agus.(sh)
Sabtu, 09 April 2011
features and news
Lansiran KPK Data korupsi tahun 2008
JAKARTA – sampai pada tanggal 15 desember 2008, komisi pemberantasan korupsi (kpk) telah melansir penyidikannya terkait beberapa kasus korupsi di tanah air. Sebanyak 70 kasus yang terhimpun, dalam tahapan penyelididikannya, sebanyak 53 perkara yang terdiri dari 7 perkara sisa tahun 2007 dan 46 perkara pada tahun 2008. Dari hal tersebut, penuntutan dilaksanakan sebanyak 43 perkara yang terdiri dari 6 perkara pada tahun 2007 dan sisanya 37 perkara pada tahun 2008. Sebanyak 43 kasusu di tahap penuntutan, 6 perkara di vonis banding, 8 perkara divonis kasasi serta 7 perkara inkracht.
KPK melaksanakan eksekusi sebanyak 21 (dua puluh satu) perkara, baik yang telah mendapat putusan PN, putusan kasasi (MA) maupun putusan Peninjauan Kembali (PK). Sedangkan kasus yang dilimpahkan kepada kepolisian sebanyak 4 perkara. Dengan jumlah kerugian keuangan negara yang berhasil diselamatkan dan telah disetorkan ke Kas Negara/Kas Daerah periode 1 Januari s.d. 15 Desember 2008 sebesar Rp406.352.031.726,-. Hingga 10 Desember 2008, terdapat 259 laporan Gratifikasi yang masuk. Dari jumlah tersebut, 215 Laporan sudah ditetapkan dengan Surat Keputusan Pimpinan KPK. Uang yang ditetapkan menjadi Milik Negara hingga 10 Desember 2008 sebesar Rp3.631.637.407 (termasuk luncuran dari akhir tahun 2007) dan barang senilai Rp1.309.947.000 (termasuk lima buah mobil). Sejak tahun 2004 sampai 2008, berkas pengaduan masyarakat yang diterima sebanyak 31.404 berkas, sebanyak 31.096 pengaduan telah selesai ditelaah, 4.078 pengaduan dapat ditindaklanjuti KPK sedangkan 22.022 pengaduan tidak dapat ditindaklanjuti karena bukan merupakanTPK.(sh)
Dibalik Kontroversi Pembangunan Gedung DPR RI
JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Mustafa Abubakar beri arahan BUMN karya (konstruksi) untuk ikut serta dalam tender pembangunan Gedung DPR yang baru. Meski pembangunan gedung baru itu belum ada perkembangan lanjutan karena pro dan kontra, namun Mustafa mendorong PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), dan PT PP (PTPP) harus bersiap-siap. "Kita ingin, kalau jadi diteruskan (pembangunan Gedung Baru) BUMN ikut tender dan ikut memang. Mereka berpengalaman, sebagai developer dan konsultan. WIKA dan ADHI kemungkinan minat. PP juga," katanya di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (8/4/2011).
Seperti diketahui, sampai saat ini pembangunan gedung baru untuk para wakil rakyat itu masih mengandung kontroversi. Bagaimana tidak, di saat kemiskinan masih merajalela, tiba-tiba DPR berniat membangun gedung mewah dengan biaya sekitar Rp1,6 triliun. Standar gedung baru tersebut lebih dari sekedar ruang kerja namun dilengkapi dengan fasilitas mewah. Ketinggian gedung baru itu sudah direvisi menjadi 36 dari semula 27 lantai karena berubahnya luas total bangunan dari 120.000 m2 menjadi 161.000 m2. Penambahan luas ini sehubungan dengan keinginan anggota DPR yang akan menambah staf ahlinya dari dua orang menjadi lima orang. Ditambah penambahan fasilitas lain, seperti ruang rapat kecil, kamar istirahat, KM/WC, dan ruang tamu. Penambahan luas ini sehubungan dengan keinginan anggota DPR yang akan menambah staf ahlinya dari dua orang menjadi lima orang. Ditambah penambahan fasilitas lain, seperti ruang rapat kecil, kamar istirahat, KM/WC, dan ruang tamu.
Di lain sisi, Fraksi Gerindra terus menyatakan penolakannya terhadap rencana pembangunan gedung baru DPR yang menelan dana lebih dari 1.000 rumah susun yang dicanangkan presiden. Gerindra tidak akan menggunakan gedung baru tersebut bila nantinya bangunan tersebut berdiri di Senayan. "Kita siap dengan konsekuensi penolakan kita, termasuk kita tidak menggunakan gedung baru itu nantinya. Itu sikap partai kita yang jelas," ujar Sekjen Gerindra Ahmad Muzani saat berbincang dengan detikcom, Jumat (8/4/2011) malam.
Gedung baru tersebut tersebut nantinya akan dipergunakan bagi para anggota dewan plus ruangan untuk para staf ahlinya untuk menunjang kinerja dewan. Namun di mata Gerindra, tidak ada korelasinya antara gedung baru tersebut dengan kinerja anggota DPR. "Gedung yang lama menurut kami sudah cukup, apalagi kalau nantinya di tahun 2014 jumlah dewan tetap sama 560 kenapa mesti perlu gedung baru?. Kerja anggota dewan sebagian besar ada di ruang komisi, pansus, dan paripurna bukan diruangan pribadi," terangnya. Menurut Muzani, menolak rencana pembangunan gedung baru juga harus dibarengi dengan sikap yang jelas. Menurutnya, sikap Gerindra yang tidak akan menggunakan gedung baru adalah ketegasan dari partai berlambang kepala Garuda itu. "Ya ini bentuk sikap kami yang tegas. Tidak sekedar menolak tetapi juga dengan konsekuensi yang siap kami terima," imbuh anggota Komisi I DPR ini. Lalu bagaimana dengan fraksi lain yang juga menolak pembangunan gedung baru?
I hope you know
But I always try
To be a good man untill my last breathe
I can pretend
The feeling for you
You make me feel like I’m free again
Let me kiss you
Let me hold you
Every step you take
Every word you say
And every game you play
I’ll be watching you
‘Cause my love for you forever
I rip my heart out
Want this love from you
‘Cause you are the one untill my last breathe
I can pretend the feeling for you
You make me feel like I’m free again
Let me kiss you
Let me hold you
Every step you take
Every word you say
And every game you play
I’ll be watching you
‘Cause my love for you forever, forever, forever, forever
Every step you take,
Every word you say
And every game you play
I’ll be watching you
Every step you take,
Every word you say
And every game you play
I’ll be watching you
Forever…
Langganan:
Postingan (Atom)
