Sabtu, 23 Mei 2015

Faktor Lain Dibalik Mendiamkan Kotornya Bisnis MLM


Surabaya- Beberapa minggu terakhir cuaca di Surabaya memang semakin panas. Sejak akhir bulan April lalu sudah tidak pernah ada lagi hujan. Sesekali saat malam memang ada gerimis. Ini sudah menandai berakhirnya musim penghujan, dan berganti dengan musim kemarau.
Suhu di Kota Pahlawan ini pun semakin membuncah. Setiap hari, suhu yang tertera di papan digital di jalan Raya Wonokromo Surabaya menunjukkan suhu di atas 35 derajad celcius. Saat malam hari, suhu pun masih di atas 25 derajad celcius.
Saya sering mengamati, karena beberapa minggu ini saya sering melintasi kawasan itu. Jadi wajar jika saya sering melihat penanda suhu yang selalu stagnan berada di atas rata-rata suhu normal.
Saya begitu merasakan suhu udara yang panas di Surabaya. Selain sangat menusuk kulit, panas membuat perasaan semakin tidak nyaman. Keringat bercucuran, macet menambah emosi mudah tersulut, dan saya lihat banyak pengendara yang sudah hilang sopan santun. Saling srobot-menyerobot.
Saya sudah tidak begitu mempedulikan hal itu. Hanya saja, karena itu sudah lekat sekali di memori otak, membuat saya perlu untuk mengulas dalam tulisan ini. Karena bisa jadi, faktor suhu juga yang mempengaruhi saya di akhir-akhir ini sering terbakar emosi. Dan berakhir dalam kolom tulisan saya.
*******
Seperti halnya di pertengahan Mei lalu saya mendapatkan penugasan mendadak untuk mengulas bisnis Multi Level Marketing (MLM) Moment yang berada di Surabaya. Bisnis yang dituding Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai money game tersebut menawarkan keuntungan yang begitu fantastis.
Pasalnya, dalam sebuah terbitan yang ditulis Radar Surabaya (Jawa Pos Group), MLM yang dimiliki PT Momen Global Internasional itu memiliki nasabah yang telah menjadi miliader. Pasangan suami istri yang bergabung dalam MLM itu kaya mendadak dan memiliki kekayaan senilai Rp 11 miliar.
Sekilas, bagi saya berita itu wajar dan tidak terlalu menghebohkan. Tapi tidak bagi redaktur saya. Ini mungkin yang melatar-belakanginya untuk meminta saya agar menelisik bisnis yang ditawarkan MLM Moment secara ringan. Istilahnya redaktur meminta saya menulis dengan gaya soft news dan features.
Saya pun menjadwalkan wawancara dengan pasangan suami istri tersebut. Di akhir pekan masih di pertengahan Mei, tulisan saya terbit. Ada sedikitnya enam berita yang dimuat waktu itu. Mulai dari apa itu bisnis MLM Moment? Siapa pasangan suami istri yang kaya mendadak dalam dua tahun terakhir itu? Pendapat OJK terkait MLM? Hingga mengajak masyarakat untuk mewaspadai bisnis MLM. Sekedar tambahan, pada waktu itu saya juga sempat menulis MMM Indonesia yang sedang menggelar konferensi pers terkait pemblokiran situs mereka oleh Kominfo.
Tulisan saya tentang MLM berakhir sampai di situ. Sebenarnya saya ingin untuk terus running terkait perizinan dan berbagai produk yang dijual MLM Moment, hanya saja waktu saya begitu terbatas. Masalahnya, saya masih punya kewajiban untuk menulis topik lain setiap harinya.
*******
Di pekan berikutnya, saat saya sedikit senggang, saya menerima pesan facebook dari salah seorang pembaca tulisan saya. Dia menceritakan apa itu MLM Moment. Masih di dinding facebook, dia juga mengirimkan pesan yang menceritakan tentang jati dirinya dan teman-temannya.
Dia mengaku mengenal facebook saya dari berita yang saya tulis setiap hari selama sepekan terakhir itu. Kepada saya, diakuianya mereka membuat sebuah grup facebook yang menjadi haters MLM Moment yang dinamakan Moment Watch. Apa latar-belakangnya? Salah satu rekannya yang lain menjawab bahwa grup ini dibentuk atas banyaknya korban yang dirugikan atas bisnis MLM Moment.
Dia menuduh bahwa MLM Moment telah menjual produk palsu yang tidak sesuai peruntukan. Awalnya dia membeberkan bahwa produk yang selama ini dijual MLM Moment itu memang mengantongi izin dari Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) sebagai produk makanan.
Masalahnya, dalam iklan dan pesan yang disampaikan MLM Moment, produk yang mereka jual bisa membantu mengobati berbagai penyakit. Padahal tidak ada makanan bisa membantu mengobati. Karena, semua produk yang dijual mulai dari Teragen, Glucogen, Slimmer, hingga Propolis tercatat sebagai produk makanan.
Bagi saya ini adalah informasi yang menarik. Sayangnya pelapor tidak merinci apa sudah ada korban valid dan berapa total jumlah korbannya? Meski begitu, bagi saya informasi ini tetap saja menarik untuk ditelusuri.
Saya pun menghubungi BBPOM untuk mengecek kebenaran informasi yang saya dapat. Di awal pekan saya menemui pejabat BBPOM bidang sertifikasi dan intelijen BBPOM. Saya menanyakan tentang empat produk yang dianggap tidak sesuai dengan peruntukannya itu. Dalam wawancara itu, berikut saya tulis laporan beritanya yang tidak sampai dimuat karena kebijakan redaksi.
***************
Perusahaan Multi Level Marketing (MLM) Moment yang dinaungi PT. Momen Global Internasional diduga melakukan pelanggaran karena memuat iklan penyesatan. Perusahaan yang memiliki ribuan nasabah ini dituding melanggar UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang pangan.
Kepada saya, Kepala Bidang Kepala Bidang Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen BBPOM Retno Chatulistiyani menjelaskan bahwa empat produk yang dijual MLM Moment tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Di antaranya adalah produk Propolis yang terdaftar sebagai produk obat tradisional dengan kode (TR). “(Meski TR) tidak boleh klaim untuk mengobati, tapi membantu,” tuturnya, Jumat (15/5/2015).
Selain itu untuk tiga produk lainnya, seperti Glucogen, Slimmer, dan Teragen terdaftar sebagai produk dalam negeri dengan kode (MD). Dua di antara produknya terdaftar atas nama perusahaan PT Mandala Cahaya Sentosa di Sidoarjo yang memproduksi Glucogen dan PT Alim Food di Tangerang yang memproduksi Teragen. “(Nama) dua perusahaan lainnya masih ditelusuri,” ujarnya.
Dia menyesalkan, karena dalam iklan MLM Moment yang dimuat melalui website resminya tersebut dikatakan bisa menyembuhkan dan diklaim seolah-olah sebagai obat. Harusnya Propolis itu tercantum hanya membantu bukan menyembuhkan.
Iklan (MLM Moment di http://moment2u.com) itu menyesatkan. Karena tiga produk (Glucogen, Slimmer, dan Teragen) justru terdaftar sebagai makanan. Seharusnya produk makanan tidak bisa mengobati. Makanan ya di makan, tidak ada kata-kata bisa menurunkan kolesterol,” tegasnya saat ditemui di kantor Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Surabaya Mei 2015.
Kata Retno semua produk yang terpampang dalam iklan berbeda dengan izin yang dikeluarkan BBPOM. Harusnya, jika produk tersebut didaftarkan sebagai produk obat, maka pihak BBPOM akan melakukan pengawasan sebelum rancangan iklan dimuat di media massa atau website resmi MLM Moment.
Sayangnya,  justru iklan yang dimuat MLM Moment menampilkan produk-produk mereka bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Bahkan untuk produk Propolis diklaim bisa menyembuhkan 1.731 jenis penyakit. Mulai dari stroke hingga kanker. Sedangkan produk lainnya juga memuat hal yang sama, menjanjikan bahwa manfaat produk bisa mencegah dan mengobati penyakit.
Karena itu, MLM Moment melanggar pasal 104 UU Nomor 18 tahun 2012. Dalam undang-undang itu disebutkan bahwa setiap orang dilarang memuat keterangan atau pernyataan yang tidak benar atau menyesatkan. Sanksinya sesuai dengan pasal 106 perusahaan bisa didenda, dicabut izin edarnya, ganti rugi, hingga penarikan pangan.
“Masyarakat telah dibohongi karena iklannya ini menjurus pada pendapat bahwa produk (MLM Moment) sebagai obat,” tegasnya. Ia juga menghimbau agar masyarakat lebih hati-hati dengan berbagai iklan dan iming-iming yang menjanjikan kesembuhan. Dia berharap masyarakat lebih cerdas untuk memilih obat yang tepat.
Sementara itu salah satu Founder MLM Moment Infinity, Iva Yuliani ketika dikonfirmasi menjelaskan tidak mungkin perusahaannya melanggar undang-undang pangan. “Klo melanggar pasti management udah di datangi aparat. Mas coba lihat iklan di TV. Apakah semua itu melanggar undang2?? Salah tulis mas sendiri yang akan memicu konflik,” katanya via pesan messengger.
Dia bahkan mengancam dengan akan menuntut atas pemberitaan ini. Iva juga membeberkan bahwa selama ini kerjasama MLM Moment dengan beberapa media massa berjalan lancar. “Jadi mas gak usah ribet dengan urusan yg bukan urusan mas sendiri.”
Sebelum kasus ini mencuat, komunitas nirlaba yang tergabung dalam grup facebook bernama Moment Watch melaporkan pada saya bahwa MLM Moment diduga menjual produk tidak sesuai dengan peruntukan. Salah satu admin grup facebook Moment Watch yang enggan ditulis namanya menegaskan bahwa produk MLM Moment telah merugikan banyak orang.
Dia pun menjelaskan bahwa latar-belakang didirikannya grup Moment Watch ini karena ada banyak pengaduan masyarakat atas penyalagunaan yang dilakukan MLM Moment. Dalam grup tersebut terdiri atas 10 admin dengan anggota 1.648 akun facebook dari seluruh Indonesia. “Kami dari berbagai latar belakang,” akunya.
********
Belakangan saya baru mengetahui latar belakang redaktur memilih untuk tidak menerbitkan berita ini, meski penting untuk diketahui masyarakat. Pertama dia mengatakan bahwa berita ini penting untuk dimuat, namun dibandingkan dengan resiko yang dihadapi jauh lebih besar.
Artinya dampak yang didapat masyarakat dari pengetahuan berita ini tidak sebanding dengan resiko hukum yang akan dihadapi perusahaan pers. Karena MLM berniat mengancam menuntut hukum.
Bukan berarti perusahaan pers takut atau ada kepentingan lain. Akan tetapi energi kita akan habis hanya untuk menghadapi kasus hukum itu nantinya. Karena itu redaktur meminta saya untuk memilih kasus-kasus yang lebih besar dan lebih sangat penting untuk diketahui masyarakat.
Hal ini juga menjadi pelajaran bagi saya, bahwa tidak semua berita penting bisa untuk dipublikasikan secara buka-bukaan. Saya akhirnya berpendapat bahwa boleh kita mati di medan perang. Namun kematian itu bukan untuk dirimu, melainkan untuk kepentingan umat manusia.

Sabtu, 11 April 2015

Indonesia Negara Paling Kapital di Dunia (Bagian II)



 
Sumber Foto: arrahmah.com

Sejumlah pengamat ekonomi tanah air maupun luar negeri menyebutkan bahwa negara yang paling kapital dalam satu dekade terakhir adalah Indonesia. Ini mengalahkan negara pendiri Kapitalisme, Amerika Serikat. Benarkah demikian?


_____________
Dari catatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tahun ini, komitmen investasi dari Jepang dan Tiongkok ke Indonesi saat ini sudah mencapai USD 73,46 miliar. Terdiri dari USD 10,06 miliar komitmen investasi Jepang dan USD 63,4 miliar dari Tiongkok.

Komitmen itu merupakan hasil kunjungan kerja Prsiden Joko Widodo ke kedua negara tersebut pada Maret 2015 lalu. Semua pasar yang diminati oleh Jepang dan Tiongkok adalah pasar yang cukup strategis. Di antaranya adalah pembangunan pabrik otomotif dan Information and Technology (IT) di Indonesia.

Kesempatan ini adalah peluang emas untuk meningkatkan nilai PDB Indonesia di level ASEAN. Terlebih pada Desember 2015 mendatang Indonesia akan menghadapi tantang besar berupa ASEAN Economy Comunity (AEC). Ditambah posisi Indonesia di perdagangan bebas Asia Pasific di masa mendatang.

Untuk bersaing di kanca pasar bebas yang sangat ketat itu, Indonesia memang memerlukan uang yang banyak untuk membangun pelbagai infrastruktur pendukung. Persoalannya pembangunan infrastruktur, seperti ribuan kilo meter jalan raya, pelabuhan, bandara, dan lain sebagainya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi caranya, selain mendatangkan investor asing ke Indonesia.

Sayangnya, meski telah banyak investor yang masuk Indonesia, tapi mereka tidak melakukan investasi pembangunan apapun. Justru mereka lebih banyak bermain di pasar finance saja, yang ujung-ujungnya hanya terlihat besar perputaran uangnya, tapi tidak pernah bermanfaat bagi masyarakat.

Kwik menyebut bahwa 70 persen pasar financial Indonesia itu dikuasai oleh perusahaan asing. Tanpa adanya regulasi yang tegas, mereka lebih suka bermain secara praktis di Bursa Efek Indonesia saja. Jika rupiah sedang anjlok, maka dengan cepatnya mereka akan menarik seluruh uangnya.

Apa yang dilakukan pemerintah saat ini adalah gambaran betapa kapitalnya Indonesia. Ditegaskan oleh salah satu rekan saya, Ekonom sekaligus pemain Pasar Modal, Doddy Junanto bahwa tidak ada negara lain yang paling liberal di dunia kecuali Indonesia.

Bahkan ia beranggapan bahwa Indonesia sebagai negara yang liberal telah mengalahkan Amerika Serikat, China, Jepang, Singapura, Prancis, atau bahkan Uni Emirat Arab (UEA). Ini karena pemerintah terlihat lemah dalam hal hubungan bilateral dan mengenai regulasi kebijakan terhadap ekonomi tanah air.

Tidak adanya, rencana jangka panjang untuk pembangunan suatu negara membuat Indonesia secara pragmatis menerima segala investasi yang masuk Indonesia. Bayangkan saja, pada sektor otomotif saja ada puluhan juta kendaraan baru yang diimpor dari luar negeri. Meski ada yang diproduksi dalam negeri itu hanya sebatas perakitan saja. Sementara perputaran uang tetap akan lari ke negara asal importir.

Dengan pasar lebih dari 140 juta warga dari total 250 juta warga negara Indonesia (WNI), pantas saja bila berbagai produsen otomotif terkemuka di belahan dunia gencar melakukan intervensi investasi terhadap pemerintah Indonesia. Tidak heran jika setiap tahun pebalab Formula 1 atau pebalab Moto GP akan diboyong untuk bertemu dengan fansnya di Indonesia. Atau bahkan menerapkan brand dengan bahasa Indonesia di jaket pebalab.

Tapi dari semua itu, adakah upaya pemerintah untuk benar-benar membangkitkan pasar otomotif di tanah air. Untuk melakukan semua itu, Indonesia membutuhkan keberanian yang luar biasa. Ini karena semua itu membutuhkan anggaran yang tidak sedikit.

Mulai dari pembangunan smelter untuk pengolahan hasil galian Tambang B dan C. Mengelola biji besi, emas, logam, dan lain sebagianya memang membutuhkan smelter. Untuk pengoperasian smelter juga dibutuhkan energi yang tidak sedikit dan murah. Sementara persoalan energi masih menjadi permasalahan yang serius di Indonesia.

Jika tidak dianggap sebagai negara paling kapital di dunia, Indonesia harus berani untuk tegas di mata dunia internasional. Karena sebenarnya mereka yang membutuhkan pasar kita, bukan kita yang membutuhkan produk mereka.

Berani untuk mengelolah sumber daya energi dalam negeri, mulai dari minyak, batubara, dan lain sebagainya. Kemudian membangun smelter, menyediakan infrastruktur, dan ini membutuhkan rencana jangka panjang yang tidak bisa diintervensi dari kebijakan politik. Untuk memperoleh semua itu, tentunya diperlukan pemimpin yang berani ambil resiko untuk melakukan burgening positition yang berbuah pada win-win solution. Dengan mengacu pada program visioner pembangunan jangka panjang.

Habis.

Indonesia Negara Paling Kapital di Dunia (Bagian I)

sumber foto: arrahmah.com
Sejumlah pengamat ekonomi tanah air maupun luar negeri menyebutkan bahwa negara yang paling kapital dalam satu dekade terakhir adalah Indonesia. Ini mengalahkan negara pendiri Kapitalisme, Amerika Serikat. Benarkah demikian?
____________
Fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, kenaikan tarif dasar listrik (TDL), dan disparitas harga kebutuhan pokok di Indonesia sebenarnya bukan hal yang baru untuk dibicarakan. Dari masa ke masa, tahun ke tahun, musim berganti musim, itulah siklusnya. Hanya karena ini menyangkut kemaslahatan warga negara dan aktualitas, media massa kemudian mengekspos dengan masifnya.

Lumrah jika hal itu terjadi, ini karena salah satu kewajiban media massa yakni bertugas sebagai anjing penjaga. Sebagai pemantau kekuasaan, sekaligus sebagai tangan kanan kekuasaan. Namun apakah yang telah dilakukan oleh media selama ini sudah masuk pada substansi permasalahan ekonomi yang sering mengguncang negara ini?

Ada hal yang lebih mengkhawatirkan ketimbang membaca hal itu. Sejumlah pengamat ekonomi tanah air maupun luar negeri menyebutkan bahwa negara yang paling kapital dalam satu dekade terakhir adalah Indonesia. Ini mengalahkan negara pendiri Kapitalisme, Amerika Serikat. Benarkah demikian?

Beberapa waktu yang lalu Ekonom Indonesa, Kwik Kian Gie melontarkan statment yang cukup miris. Ia melihat bahwa kemiskinan di Indonesia masuk kategori kronis, melampaui batas kemanusiaan. 

Kondisi ini katanya tidak lepas dari sistem ekonomi Indonesia yang menganut pasar liberal. Ini terjadi akibat persaingan bebas di sektor ekonomi. Misalnya saja, produsen besar yang telah menguasai kebutuhan pokok terus menguasai pasar di seluruh daerah di Indonesia.

Sementara kata Kwik, sampai saat ini tidak ada kontrol dari pemerintah. Dia menganggap, tanpa adanya peraturan dan pengaturan oleh pemerintah, produsen akan memproduksi barang dan jasa yang dianggapnya memberikan laba yang besar.

Padahal untuk menuju pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan, dibutuhkan kombinasi sistem ekonomi liberal dan sistem politik otoriter, yang oleh banyak ahli disebut market oriented authoritarianism. Ini yang kemudian membuat Singapura menjadi negara dikdaya di Asia saat ini. Lantaran kesuksesan mantan Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew meramu sistem liberal di negara tersebut.

Meski menganut sistem liberal, Lee dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan otoriter. Sebagai pemimpin, ia mengedepankan sikap disiplin dan tegas terhadap penegakan hukum. Kuncinya, ia beranggapan bahwa negara harus menjadikan hukum sebagai panglima, bukannya kebijakan yang bersifat politik.

Salah satu contoh kecil kebijakan disiplin yang diterapkan oleh Lee adalah melarang membuang sampah di sembarang tempat. Mewajibkan pemilik perusahaan untuk menyisihkan 20 persen biaya dari total gaji karyawan untuk dialokasikan sebagai asuransi jiwa para karyawannya. Semua pengusaha wajib menaatinya.

Terlepas dari Singapura memang bukanlah negara demokrasi, namun dapat dipetik pelajaran dari sistem kapital yang diterapkan oleh Singapura justru juga banyak mengedepankan sistem sosialis yang bermanfaat untuk kemaslahatan rakyatnya. Sementara yang terjadi di Indonesia justru kapitalisme berkembang dahsyatnya tanpa diimbangi dengan regulasi dan kebijakan sosialisme yang tepat sasaran.

Dengan kata lain, pertumbuhan modal memang memiliki akselerasi yang sangat cepat, namun ini terjadi pada segelintir orang saja. Ibaratnya si kaya makin kaya. Padahal hal ini perlu diimbangi dengan rezim politik otoriter, begitu kata Kwik.

Dijelaskan Kwik, salah satu sebab mengapa pemerintah tidak peduli dengan adanya kesenjangan sosial, karena pemerintah terobsesi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) saja. Padahal mereka tidak mengetahui persis apa arti PDB secara filosofis. Sekilas jika dipahami secara sederhana, PDB adalah barang dan jasa yang diproduksi di Indonesia tanpa peduli siapa yang membuat PDB dan siapa yang memilikinya.

Akibatnya, sampai saat ini potret kesenjangan menghiasi wajah kota besar, termasuk Ibukota Jakarta. Orang miskin tidak hanya di pedalaman atau pedesaan saja, justru lebih banyak ditemukan di kota besar. Kemiskinannya sudah melampaui batas-batas kemanusiaan. Ini harus segera diatasi oleh negara, kalau tidak kondisi ekonomi Indonesia akan makin terpuruk.

Meski begitu, kelihatannya pemerintahan Jokowi-JK saat ini juga akan lebih konsentrasi untuk meningkatkan PDB tanah air. Ini dibuktikan dengan lawatannya ke sejumlah negara beberapa waktu yang lalu. Kemudian menghasilkan kerjasama bilateral antar negara, dan bahkan berhasil memboyong investor Jepang dan China agar masuk di Indonesia.

Bersambung ke bagian II

Jumat, 13 Maret 2015

Produksi Tempe dengan Air Sungai Terancam Ditutup Dinkes (Bagian 3)

Sumber foto enciety.co: Tong-tong berisi kedelai berjejer di pinggir bantaran sungai Tenggilis Mejoyo Surabaya siap untuk dimasak menggunakan air limbah kali, Selasa (10/3/2015).

Temuan enciety.co terkait adanya tindakan berbahaya yang dilakukan oleh sejumlah produsen tempe di Tenggilis Lama III, Surabaya langsung direspon Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya.

Ditemui di kantornya, Rabu (11/3/2015) siang, Kepala Dinkes Kota Surabaya, drg. Febria Rachmanita menegaskan akan segera menelisik dan memberi peringatan keras kepada produsen tempe yang terbukti mengolah tempe menggunakan air sungai.

“Temuan ini akan kami tindak-lanjuti dengan menerjunkan tim untuk mengecek secara langsung tempat produksi tempe tersebut. Jika benar terbukti melanggar ketentuan tentang kesehatan, maka kami langsung akan berikan surat peringatan,” tegas Febria di lantornya Jalan Jemursari, Surabaya.

Jika pada peringatan pertama nantinya produsen tempe tersebut tetap tak mengindahkan, Febria berjanji akan kembali memberi peringatan hingga tiga kali. Jika tetap saja produsen tempe nakal tersebut bergeming, maka sesuai dengan standard operating procedure (SOP), Dinkes Surabaya tidak segan-segan menutup tempat produksi tempe tersebut.

“Dulu kita juga pernah menemukan hal yang sama. Kami pernah menemukan sekali produsen tahu yang menggunakan limbah air sungai untuk digunakan memasak tahu. Jadi mereka juga mengambil air dari sungai, lalu limbah tahu dibuang di sungai kembali jadi sangat tercemar dan berbahaya bagi kesehatan konsumen dan masyarakat,” beber dia.

Dari temuan tersebut, kata Febria, Dinkes langsung memberikan surat peringatan keras. Tidak lama kemudian, pabrik tahu yang tidak mengantongi izin usaha tersebut ditutup oleh pengusahanya sendiri, sebelum Pemkot Surabaya melakukan tindakan penyegelan.

“Jadi kita ada aturannya, dan menganjurkan agar produsen tempe dan tahu untuk menggunakan air PDAM sebagai media untuk proses memasak. Meski air PDAM diambil dari sungai Jagir, tapi itu sudah melalui berbagai filterisasi dan setiap tahun kami selalu melakukan pemeriksaan terkait baku mutu air PDAM,” ungkapnya.

Namun,imbuh Febria, jika produsen tempe menggunakan air sungai yang tercemar berbagai limbah rumah tangga maka dikhawatirkan akan berdampak serius pada kesehatan konsumennya. Diakuinya ada banyak sekali bakteri di dalam sungai terlebih sudah tercampur dengan berbagai kotoran, sampah, pampers, air bekas cuci, masak, dan mandi warga Surabaya.

“Memang perlu diuji di laboratorium untuk melihat ada bakteri apa saja di dalam air sungai tersebut. Meski begitu, secara kasat mata kita sudah bisa melihat bahwa air kali Surabaya tidak dapat secara langsung digunakan untuk memasak dan lain sebagainya,” tambahnya.

Seperti diberitakan, sedikitnya 12 pengusaha di kawasan Tenggilis Lama III Surabaya bertindak ceroboh dengan memasak kedelai menggunakan air sungai di Tenggilis Mejoyo. Setiap hari mereka memproduksi tempe hingga 1 sampai 2 ton tempe yang dipasarkan di sejumlah pasar tradisional di Surabaya dengan harga yang lebih terjangkau.

pernah diterbitkan http://www.enciety.co/gunakan-air-sungai-dinkes-surabaya-bakal-tutup-produsen-tempe/

Produksi Tempe dengan Air Sungai, Disperdagin Surabaya Ngaku Kecolongan (Bagian 2)

Sumber foto enciety.co: Tong-tong berisi kedelai berjejer di pinggir bantaran sungai Tenggilis Mejoyo Surabaya siap untuk dimasak menggunakan air limbah kali, Selasa (10/3/2015).


Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Surabaya, Widodo Suryantoro mengaku kecolongan dengan adanya produsen nakal tempe. Karena memang Widodo mengaku tidak ada pengawasan secara persuasif.

“Sifatnya kami memberi pembinaan dan imbauan kepada setiap Lurah dan Camat di seluruh Surabaya. Jika ada yang nakal akan kami peringatkan. Kami telah berkoordinasi dengan dinas terkait jika ada penyelewengan,” ujarnya, Selasa (10/3/2015).

Untuk diketahui, penelusuran enciety.co, di lokasi tempat produksi tempe di Tenggilis Mejoyo, sedikitnya ada 12 pengusaha yang melakukan tindakan nakal. Di tempat seluas 50 meter persegi tersebut, semua proses produksi dilakukan di bantaran sungai. Mulai dari proses pencucian kedelai, memasak, hingga proses fermentasi tempe dilakukan di tempat yang sama.

Sekilas tidak ada yang berbeda antara tempat produksi tempe di kawasan tersebut dengan tempat produksi lain di kampung-kampung. Hanya saja, cara produksi home industry tersebut menggunakan air limbah yang diambil dari sungai Tenggilis Mejoyo.

Widodo mengungkapkan, upaya lain yang dilakukannya adalah dengan mendata dan memberikan izin usaha kepada setiap produsen tempe. Ini dilakukan untuk mempermudah pengawasan di sektor hilir.

“Kalau nanti ada peredaran tempe yang menggunakan air limbah akan kami tarik dari pasaran,” tegas dia.

Sementara, Ketua Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen (YLPK) Jawa Timur Said Utomo menegaskan, tindakan tersebut sangat berdampak pada kesehatan masyarakat.

“Memang dampak langsung tidak akan terjadi, tapi untuk jangka-panjangnya bisa membahayakan kesehatan masyarakat,” ujar dia.

“Kalau dikonsumsi dengan jangka panjang kan bahaya untuk konsumen. Jadi kita juga perlu menguji ke BPOM apakah produksi tempe tersebut menggunakan air limbah atau tidak,” imbuhnya.

Ditambahkannya, bahwa sebagai pelindung konsumen di sekor hilir, Said meminta Pemkot Surabaya menindak tegas kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh para produsen makanan dan minuman.

“Memang masyarakat tidak bisa menguji secara langsung, jadi dibutuhkan peran Pemkot Surabaya untuk menindak dan menguji di BPOM atas temuan ini,” pungkasnya.

pernah diterbitkan http://www.enciety.co/produksi-tempe-dengan-air-sungai-disperdagin-surabaya-ngaku-kecolongan/

Translate